fix mindset jalan kegagalan

Ini adalah pengamatan yang sangat umum terjadi di sektor UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah), termasuk industri tempe tradisional. Sebagian pengusaha tempe dinilai memiliki pikiran “kolot” atau resisten terhadap perubahan karena beberapa alasan mendasar yang saling terkait:

1. Hambatan Ekonomi dan Risiko Finansial

  • Modal Terbatas (Modal Investasi Awal Tinggi): Peralatan modern, seperti yang digunakan oleh Tempe Mas Didik (mesin canggih), atau pembangunan fasilitas higienis sesuai standar BPOM, membutuhkan investasi awal yang besar. Bagi pengusaha kecil dengan modal pas-pasan, ini dianggap sebagai risiko yang terlalu besar.
  • Keengganan Berutang: Banyak pengusaha tradisional enggan mengambil pinjaman bank untuk modernisasi, memilih untuk mempertahankan operasional kecil dengan biaya serendah mungkin, sesuai dengan filosofi modal sendiri.

2. Keterikatan pada Tradisi dan Warisan

  • “Sudah Berjalan Sejak Dulu”: Ada kepercayaan kuat bahwa metode yang diwariskan dari generasi ke generasi (misalnya, membungkus dengan daun atau menggunakan cara manual) adalah yang terbaik dan menghasilkan rasa tempe yang paling otentik.
  • Ketakutan akan Perubahan Rasa: Mereka khawatir bahwa modernisasi proses (misalnya, penggunaan mesin atau ruang fermentasi terkontrol) akan mengubah cita rasa tempe yang sudah diterima oleh pelanggan setia mereka.

3. Kurangnya Akses dan Pengetahuan Formal

  • Kesulitan Mengakses Informasi Sertifikasi: Mengurus Sertifikat Halal atau Izin Edar BPOM sering kali dianggap proses yang rumit, mahal, dan membuang waktu. Pengusaha merasa “Wong liyo ngerti opo” tentang birokrasi ini, sehingga mereka memilih menghindarinya.
  • Gap Teknologi: Kurangnya pengetahuan tentang bagaimana teknologi (seperti sistem yang dikembangkan dari kolaborasi kampus) dapat meningkatkan efisiensi dan mengurangi limbah, membuat mereka bertahan pada peralatan lama.

4. Fokus pada Harga Murah sebagai Satu-satunya Strategi Bersaing

  • Mentalitas Perang Harga: Banyak pengusaha kolot meyakini bahwa satu-satunya cara untuk bertahan adalah dengan menawarkan harga termurah, yang sering kali dicapai dengan mengorbankan kualitas atau higienitas. Mereka tidak melihat bahwa ada pasar premium yang bersedia membayar lebih untuk jaminan mutu dan sertifikasi.
  • Apresiasi Rendah terhadap Branding: Mereka tidak menyadari pentingnya branding, pengemasan yang baik, atau pemasaran digital (seperti yang dilakukan Tempe Mas Didik) untuk menarik pasar yang lebih besar.

Intinya, pikiran “kolot” pada pengusaha tempe tradisional seringkali merupakan kombinasi dari keterbatasan sumber daya, rasa takut terhadap risiko, dan kurangnya pemahaman tentang nilai tambah yang ditawarkan oleh modernisasi dan legalitas. Ini berbeda dengan Tempe Mas Didik yang berani berinvestasi pada “nyatanya” (kualitas, sertifikasi, dan inovasi) untuk membangun bisnis yang berkelanjutan dan terpercaya.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *