Owner Tempe Mas Didik kemungkinan besar membangun laporan keuangannya berdasarkan prinsip akuntansi dasar, dengan fokus ketat pada akuntansi biaya produksi.
Berikut adalah cara owner membangun laporan keuangannya:
1. Dasar Pencatatan dan Sistem Pembukuan
Untuk menghasilkan laporan yang valid dan auditable, owner harus:
- Pemisahan Akun: Memisahkan secara tegas antara keuangan pribadi dan keuangan bisnis.
- Pencatatan Harian: Mencatat semua transaksi harian, baik penerimaan (penjualan ke distributor/pasar) maupun pengeluaran (pembelian kedelai, gaji, biaya operasional).
- Basis Akrual/Kas Modifikasi: Menggunakan sistem pencatatan yang konsisten, seringkali cash basis yang dimodifikasi atau accrual basis penuh, untuk akurasi.
2. Tiga Laporan Keuangan Inti
Setiap bulan, owner akan menghasilkan tiga laporan utama:
| Laporan | Tujuan Utama | Fokus Khusus Bisnis Tempe |
| 1. Laporan Laba Rugi | Mengukur kinerja keuangan selama periode tertentu (laba atau rugi bersih). | Melacak margin kotor (Gross Margin) setelah memperhitungkan Harga Pokok Penjualan (HPP) tempe. Penting untuk melihat dampak kenaikan harga kedelai. |
| 2. Laporan Posisi Keuangan (Neraca) | Menggambarkan aset, kewajiban, dan modal perusahaan pada tanggal tertentu. | Melacak nilai Aset Tetap (misalnya, nilai penyusutan mesin canggih dan pabrik di Gayamsari) dan nilai Persediaan (stok kedelai dan tempe jadi). |
| 3. Laporan Arus Kas | Melacak semua arus masuk dan keluar uang tunai dari aktivitas operasional, investasi, dan pendanaan. | Memastikan likuiditas cukup untuk mendanai pembelian bulk kedelai, yang merupakan modal kerja terbesar. |
3. Fokus Utama: Akuntansi Biaya (Menghitung HPP Tempe)
Ini adalah bagian paling kritis karena bisnis tempe adalah bisnis produksi. Untuk mengetahui laba yang sebenarnya, owner harus menghitung HPP (Harga Pokok Penjualan) per unit tempe secara akurat:
$$\text{HPP} = \text{Bahan Baku Langsung} + \text{Tenaga Kerja Langsung} + \text{Biaya Overhead Pabrik}$$
| Komponen Biaya | Keterangan Khusus Tempe Mas Didik |
| Bahan Baku Langsung | Biaya Kedelai (termasuk biaya pengiriman dan penyimpanan). Sangat vital untuk memantau fluktuasi harga kedelai harian. |
| Tenaga Kerja Langsung | Gaji staf produksi yang terlibat langsung dalam pembuatan tempe (di pabrik Gayamsari). |
| Biaya Overhead Pabrik | Biaya tidak langsung, termasuk: Biaya Yield (Limbah): Menghitung kerugian kedelai akibat pengupasan atau batch gagal (diharapkan minimal berkat mesin canggih). Biaya Energi: Listrik dan gas untuk merebus (biaya signifikan untuk kapasitas 2 Ton). Biaya Kemasan & Ragi Biaya Depresiasi: Penyusutan nilai mesin canggih hasil kolaborasi kampus. |
4. Alat dan Teknologi
Mengingat skala dan kebutuhan audit, owner kemungkinan menggunakan:
- Software Akuntansi: Menggunakan software akuntansi berbasis cloud (seperti Jurnal, Zahir, atau Accurate) daripada hanya Excel, karena lebih andal untuk melacak inventaris dan mengelola transaksi volume besar.
- Integrasi Penjualan: Mengintegrasikan penjualan dari distributor dan pasar ke dalam sistem untuk pelaporan Laba Rugi yang real-time.
